Tampilkan postingan dengan label roy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label roy. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Juli 2010

Wallpaper Baru

Gw mau pamer desktop baru gw yang pake wallpaper roy mustang lagi melihat bintang. Cihuy banget... :D

here it goes...




Setelah kemaren menerima hasil SNMPTN, gw pikir gw perlu sesuatu yang bisa membantu gw memulihkan keadaan mental gw. Setelah scanning folder gambar fullmetal yang bejibun, ketemu juga ni gambar. Roy-nya keliatan ganteng. Hahahahaha~ :D

Gw mau mulai belajar dulu. ^^ pray for me, will you? :)


Salam gaul dari bocah gaul,

Selasa, 06 Juli 2010

Ring and Promises

This is my first English post edition. Hmm.. maybe I'll write in this way for some future posts. I want to improve my English skill. So, bear with it, okay :)

I bought a ring in PRJ (Pekan Raya Jakarta) last Saturday (I'll tell about the entire PRJ-thing later).

Anyway, this ring is made of stainless steel. Just a regular silver ring with a little diamond in the centre of it. And, if you see it closer, you can see some pattern like flower and some shapeless pattern. It's cute. :) I bought it for 15.ooo rupiahs. When you see this ring, it was just like a wedding ring, but more simple.

Seeing this ring, make me feel that again. Feel some... missing.

Back this days, I feel this 'missed' thing. Okay, I know I was kinda freak about Fullmetal and Roy Mustang. And I can't lie that I love them, more than you know. I've never missed every single episode on Animax every Friday (okay, I missed it on December 2009 and January 2010 because of some error-ness on my Indovision). And don't forget how mad I am if someone dare to annoy me when I watch the episodes.

All this time, I told myself that I missed Fullmetal and Roy Mustang.

That's my thought.

But, I realized that I missed something or someone else. The problem is, I don't know who the hell is that.

When I get this silver ring, I promised to myself. I will keep searching for this 'Roy Mustang'. I know, there won't be any person that as perfect as him. But, nearly-him is partly enough. And I also promised when I find 'Roy Mustang' in person, I'll keep his feeling and keep him in me forever. No matter what will happen.

And I also promised, I'll keep my first kiss for this 'Roy Mustang' guy.

Once again, I don't know who will be my 'Roy Mustang'.

My freakishness and promises in Roy Mustang makes me wants to be Riza. That's why I always assume myself as Riza Hawkeye.

Because in Fullmetal, Riza and Roy are close. It's never mentioned in story that they have any romantic connection, but I believe if they are exist, they'll have.

Honestly, I envy Riza and Roy. I envy Riza a lot. I envy to have some guy like 'Roy Mustang' in my life. And my wish is, I want to meet Roy Mustang. The real one.

Maybe that's heavy for some random wishes, but I really wished for it.

This ring, some promises, and a wish.

I wish I can meet you, 'Roy Mustang'.


Love,

Jumat, 02 Juli 2010

Cry Over Anime

Konbanwa, minna-san~ :)

Gw baru aja selesai nonton pertandingan Belanda Vs Brazil. Congratulation for Oranje Team, anda telah membuat Brazil angkat koper trus mudik ke negaranya.

Pertandingannya asli seru banget. Sayang gw ga nonton dari awal. Gw cuma nonton 10 menit terakhir. Tapi justru kerasa banget serunya. Sampe detik terakhir, Brazil bener-bener usaha buat menyamakan kedudukan. Keren banget deh, kipernya juga udah maju sampe ke lapangan tengah. Wah, bener-bener full offense. Keren, mantap mampus.

Mungkin ini yang ga dipunyai tim Indonesia, berjuang sampai detik terakhir. Dan kalau kita bisa kaya gitu, mungkin sekarang timnas Indonesia udah layak berjuang di ajang world cup. :)

Sudah, cukup membahas WC. Nanti ga sesuai sama judul diatas.

Okeh, sesuai dengan judul diatas, gw masih terperangkap Fullmetal Alchemist Brotherhood episode 63 yang tadi gw tonton sambil bercucuran air mata.

Lebai kah?

Gw ga pernah, catet, gak pernah. Gw gak pernah nangis waktu nonton drama roman yang katanya bisa menguras air mata sampe kering. Sekali pun blom pernah. Makanya gw sampe sekarang masih agak bertanya-tanya kenapa nyokap atau temen-temen gw nangis waktu nonton telenovela atau drama korea. Oke fine, ceritanya emang sedih, gw akui. Tapi se-sedih-sedihnya tu cerita, ga pernah gitu bikin gw sampe terisak-isak.

Anime? Lain cerita. Gw udah nangis beberapa kali gara-gara anime. Gak tau aneh apa gak. Tapi yang jelas, kalo gw udah mengikuti cerita anime dengan serius, begitu ceritanya sedih sedikit, gw pasti langsung menitikkan airmata. Gak banyak sih, cuma pasti ada embel-embel 'hiks'-nya.

Anime pertama yang bikin gw nangis adalah Itazura na Kiss. Gw inget nonton ni anime dari dvd yang gw beli secara random di tukang dvd anime langganan gw. Pas gw nonton, gw ga nyangka ceritanya yang pertama konyol dan lucu, di akhir jadi sedih dan mengharukan. Gw mulai nangis mau di episode terakhir waktu tokoh utama ceweknya berusaha melahirkan, sedangkan suaminya lagi berusaha mengoprasi pasien gawat darurat. Itu.... such a wow.

Fullmetal Alchemist Brotherhood udah bikin gw nangis lagi. Sampe skarang gw masi inget episode pertama yang gw tangisi : episode pas Roy Mustang kehilangan penglihatan. Itu episode FMA Brotherhood pertama yang gw tangisi sampe ngisak-isak lama. Tisu abis banyak, mata bengkak udah kaya apa tau. Hahahaha, lebai ya? Padahal gw udah baca adegan itu di manga-nya, tapi ga tau kenapa waktu gw nonton, sedihnya kerasa banget. Apalagi Roy Mustang itu karakter favorit gw. Jadilah gw mengadu kemana-mana atau kesiapapun yang mau dengerin gw ngeraung-raung soal Roy.

Seminggu sebelum episodenya muncul di animax, gw udah susah tidur.

Asli, baru kali itu gw merasa jadi orang terlebai di dunia.

Sekarang, episode 63, gw lagi-lagi nangis. Tidak lupa diiringi sesenggukan sana sini. Nangis gw lebih keras di ending song. Soalnya adegan kematian Hohenheim bener-bener tidak sama dengan yang gw bayangkan.

Oh tidak, sepertinya gw mendapat 'essence' yang lebih di anime daripada drama yang isinya orang beneran. Huff, mungkin gw emang udah beneran jadi otaku. Tapi ya, mau gimana lagi, nonton drama jarang bisa mengembalikan senyum gw yang hilang. Dan, entah kenapa, anime bisa melakukan tugas itu dengan baik.

Minggu depan adalah episode terakhir FMA brotherhood di animax. Dipastikan gw akan nangis lagi. Haaahh~

Well, sekian untuk malam ini. Besok gw mau jalan ke PRJ bareng emak-bapak plus spupu n om-tante gw. Wow, it'll gonna be a great day. :)

Okay, c u soon. ^^


Oyasuminasai.

Salam gaul dari bocah gaul,

Envious...

Gw abis melanglangbuana menuju web Fullmetal Alchemist. Ga tau kenapa, rasanya kangen browsing-browsing nyari gambarnya Roy sambil 'ha hi ha hi' sendiri. Dan hasilnya gw malah membanjiri folder download dengan berbagai macam wallpaper Fullmetal. Oh, my brother, ampuni saya yang sudah menghabiskan memory untuk wallpaper lagi. :)

Waktu lagi ke FMA.com, gw nemu foto-foto hasil admin-nya. Whoao, dia bener-bener fans beratnya FMA, dia punya hampir setiap merchandise-nya. Blom lagi dia punya box set archives edisi spesial-nya fullmetal yang sengabrek-ngabrek pengen banget gw miliki. Naturally, I envy him or her.

Gw makin ngiri banget pas liat ada ini :

Ini adalah silver pocket watch. Tanda seseorang jadi State Alchemist. And that cool admin has it!! Damn, gw iriiii banget. Baru kali ini gw ngiler ama sesuatu sampe segininya. Selama ini gw nyari-nyari pocket watch buat ya... setidaknya walaupun ga mirip sama gambar diatas, buat ber-fullmetal-an ria gitu.

Ini dalemnya jam itu :


Pocket watch-nya sama ky punya Edward Elric. Waduuuhh, makin ngiler aja gw. -,- kira-kira berapa harganya ya? Seenggaknya gw mau nabung gitu buat beli gituan. Hiks, mauuu mama...

Dan ternyata, si Admin Fullmetal freaker ini punya lebih lengkap dari yang gw bayangkan. Dia juga punya ini :

Wadoh mami.... Gw jadi inget ada fanfic yang nyeritain tentang Roy nulis surat pake kertas ber-cap kemiliteran yang kaya gitu. Anyway, gw suka banget ama lambang singa-nya. Keren.

Sebetulnya dari semua stationary itu, gw paling tertarik sama pocket watch-nya. Keren bangeeeett... Aduh ya ampun. Gw bertekad mau punya satu tu pocket watch. Nabung ah, gw tau harganya pasti bukan dalam bentuk rupiah.

Si Admin ini punya gallery fullmetal-nya sendiri.

Itu foto para karakter utama FMA. Gileee, ampe di bingkai begitu.


Kalau gambar yang diatas ini, poster dari FMA movie : Conqueror of Shamballa. Ini big size cuy... Hoaoaoaoaoa... Admin, I envy you.

Gw jadi punya cita-cita kedua setelah jadi dokter : mengoleksi all about Fullmetal Alchemist. Oh tidak, gw balik jadi otaku anime gini. Yah, kapan lagi ada dokter penyuka anime, iya kan? kan? Tapi setidaknya, gw masih bangga kalo yang gw koleksi tentang FMA. :)

Anyway, ntar malem di Animax ada Fullmetal Alchemist episode 63. Minggu depan episode terakhir, huaaaa hiks hiks... *srooot* sedihnya~

Oia ngomong-ngomong, kok tadi post gw sebelumnya berlabel tanggal 1 juli ya? Padahal gw ngepostnya baru hari ini lho, sekarang hari jumat, tanggal 2. Ke-error-an kah? I don't know.

Wokeh, saya permisi dulu. Mau mempersiapkan diri buat nonton FMA nanti jam 7 malam. C u again.


Salam gaul dari bocah gaul,

Jumat, 25 Juni 2010

Giant, Fullmoon, dan Fullmetal

Ahoooii minna-san, sepertinya gw terkena sindrom 'tergila-gila-update-blog-mentang-mentang-baru-di-renovasi'. Pengennya nulisssss mulu, padahal mah kecepatan gw ngetik masi segini-segini aja, cepet nggak, lambat juga... yaa.... ga lambat-lambat amat laaahh, elah! *pembelaan. Anyway, gw tadi baru aja nemenin nyokap ke Giant. Bukan, bukan Giant temennya Nobita. Tapi, Giant Supermarket yang letaknya emang ga jauh dari rumah gw.

Sore-sore lagi ngaso depan laptop gw, si Chiaki (oiya, laptop gw namanya Chiaki lhoo ^^), nyokap bilang, "Dek, jalan-jalan ke Giant yuk. Sapa tau ada diskon, ini kan hari jumat." Gw yang emang udah apal kebiasaan nyokap yang suka hunting-hunting barang diskonan, iya iya aja, siapa tau gw bisa nebeng minta beliin coco crunch atau apa kek buat cemilan. Kan lumayan. Udah gitu, nyokap ngasi gw buat jadi supir motornya. Okelah, toh gw juga udah lama ga
ngeluarin jiwa dani pedrosa dalam diri gw, hehehehe *digeplak pedrosa.

Jam 5-an, gw mandi cebar cebur, bikin badan gw wangi. Keluar, andukan, pake baju. Karena tujuan kita pergi cuma ke Giant yang notabene tempat belanja kebutuhan sehari-hari, nggak lucu kan klo gw pake gaun. Jadi gw putuskan pake kaos pink ama celana hitam selutut yang agak ketat, ga lupa tambah sleeve-less jacket biar nambah kesan kayak tukang ojek. ^o^

Sip, gw udah wangi, nyokap udah wangi, kita caboout ke Giant.

Sampe di Giant nyokap dengan cekatan meneliti barang yang didiskon. Untung ukuran Giant-nya ga terlalu gede, jadi gw ngikutin nyokap maju mundur ga cepet cape. Nyokap ngeliat ada anggur diskon, keadaan bagus, pasti langsung, "Dek, ambil plastik." Gak lama, "Dek, timbangin dong tolong."

Benar-benar figur pencari diskon yang gw idolakan. Sumpe, kalo nyari barang murah, nyokap emang jago. Gw aja kalah. Padahal gw udah terkenal hemat bin pelit lhoohh *digampar sendal*

Tapiii, cerita sebenarnya baru dimulaiwaktu gw jalan ke bagian eskrim di Giant ukuran mini tersebut.

Di tengah Giant didesain ada koridor buat jalan ke gang-gang yang udah ditaro barang sesuai klasifikasinya. Karena ukurannya yang ga terlalu besar, gw bisa liat Giant ini dari ujung ke ujung.
Nah, pas gw lagi iseng-iseng ngider nyari pemandangan, gw liat ada cowok. Ga ganteng, suer, biasa aja. Pake baju koko putih, rambutnya dipotong pendek hampir botak gitu, trus dia bawa keranjang belanja di sikunya. Hell yeah, di sikunya, kayak emak-emak ke pasar. Sebetulnya ga ada yang menarik ama cwo itu, cuma ini, entah perasaan gw doang atau beneran, cowok itu ngeliatin gw.

Damn, ga bermaksud geer nih. Pasti pada ngerasa kan kalo ada orang yang ngeliatin dalam waktu lama. Nah, gw ngerasa itu dan nangkep dia berulang kali lagi ngeliatin gw. Untung dengan bekal muka bata dan habit cuek gw yang udah ga ketulungan, gw kacangin aja dia. Sampe-sampe tu orang mondar mandir di koridor cuma buat ngeliat gw doang. Eh anjer, takut gw lama-lama.
Gw keluar gang, dia keluar gang. Gw berenti di koridor, dia diem di ujung gang biar keliatan koridornya.

Nyokap gw hadir sebagai penyelamat untuk kali ini. Nyokap akhirnya selesai hunting dan ngajakin gw ke kasir. Akhirnya gw keluar dengan selamat sentausa dan dalam keadaan utuh sampai di rumah. ^^

Nyampe di rumah, udah sekitar jam setengah 7 kurang. Gw liat-liat ke atas, siapa tau ada bulan gitu. Eh, ternyata ada.

Ternyata malam ini bulan purnama.

Hadeeuh, kalo liat bulan purnama, jadi inget fanfic gw yang tadi, yang Night Wind Ballad. Gw kangen Roy Mustang... huhuhuhuhuw...

Nah, berhubung gw lagi semangat ngeblog ni, gw rencanain mau foto tu bulan, terus gw masukin disini. Eeh naas, bulannya ngumpet di balik awan pas gw mau foto. Ah damn, giliran mau difoto aja baru ngumpet, knapa ga dari tadi aja sih... -____-" nanti kalo akhirnya gw dapet fotonya, gw pajang deh disini.

Jumat malem, artinyaaa : Fullmetal Alchemist (FMA) Brotherhood. Yaaayyyy!!!

Jiwa otaku gw balik lagi. Dari jam setengah tujuh gw udah mantengin animax biar ga telat nonton anime favorit gw ini. Ga sabar mau liat Roy Mustang -,- hihi. Yap, seperti biasa, kalo gw nonton, suka malu sendiri. Kalo nonton gw bisa sampe teriak-teriak, mengumpat, sampe terisak-isak. Mending kalo gw lagi nonton drama, lah ini anime. They're not real. But I don't know why, I love them as if they are real.

Oke, sepertinya untuk malam ini, sampai sini dulu. Kayaknya susah kalo mau nyeritain episode FMA yang hari ini gw tonton. Intinya, di episode ini Roy Mustangnya kereeeennnn ^0^

Enough for today.

Lovindy, over and out.




Salam gaul dari bocah gaul,

Night Wind Ballad

Ini adalah fanfic yang gw tulis selama 3 malam berturut-turut. Sebetulnya ini songfic dari Nodame Cantabile Ending Theme song yang judulnya 'Kaze to Oka no Ballad' by Real Paradis.

Setelah gw baca-baca lagi, yang terlintas dipikiran gw : Did I actually write that? -____-"

Oke, tanpa banyak bicara lagi, silahkan membaca fanfic pertama yang saya publish di blog saya ini.

Disclaimer : Fullmetal Alchemist dan tokohnya adalah milik Arakawa-sensei, 'Kaze to Oka no Ballad' adalah milik Real Paradis dan Nodame Cantabile. Gw? Gw yang punya fanfic ^^

Enjoy!!

-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-==-=--=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=

Ah nadaraka na saka wo kudaru kara no suutsukesu furikaeru to
tooku hikaru akai yane kono oka no ie kyou dete iku

(Ah, I'm going down a gentle slope with an empty suitcase.
When I look back, I see a shiny red roof in the distance.
I'm leaving this house on the hill today.)

Riza Hawkeye berjalan keluar dari Eastern Headquarter. Ia mengarahkan jam tangannya ke hawapan

mata sayunya. Pukul 20.30, sudah telat beberapa jam dari waktu pulang kantor biasa. Ia menghela nafas panjang. Badannya terasa sangat lelah.Setelah semua perang dengan homunculus itu berlalu dan Mustang naik pangkat menjadi Brigadier General yang juga diikuti dengan kenaikan pangkat Riza menjadi Kolonel, Riza merasa hidupnya menjadi semakin sibuk. Ia dan Mustang kembali bertugas di Eastern Headquarter untuk me-renovasi kembali Ishval dan memperbaiki perekonomian di daerah timur Amestris.

Karena kesibukannya, Riza memotong rambutnya menjadi pendek seperti dulu. Lagipula, menurut Riza, rambut pendek lebih praktis dan lebih mudah dirawat.

Riza membetu

lkan letak tali tas tangannya, kemudian ia berbalik dan memperhatikan gedung Easter Headquarter. Dindingnya pucat dan terlihat agak menyeramkan karena dibalut kegelapan malam. Lampu yang menyorot dari bawah malah membuat penampilan gedung HQ semakin menyeramkan.

Aku sudah lama sekali bekerja di Eastern Headquarter.

Ya, sangat lama. Mulai dari aku masih seorang kadet biasa sampai sekarang.

Tetapi mengapa

aku tidak pernah bosan ya?

Riza berdiri lama menatap gedung Eastern Headquarter. Angin malam bertiup lembut menyapu wajah Riza. Mendadak, ia merindukan masa-masanya berjuang untuk mendapatkan posisi sniper. Semuanya terasa mudah, dan dia mempunyai tujuan untuk segala usaha perjuangannya belajar dari berbagai macam buku dan berlajar menembak berhari-hari di range dibawah pengawasan ketat kakeknya.

watashi wa itsumo kouyatte kita shi souyatte iku shi
kaze no tsuyoi

asa ga niau no mukaikaze umaku noreru yo

(I've always done it like this and I will continue to do so
I look my best on windy mornings
I'm sure I can catch a good head wind)

Riza adalah orang yang serius. Semuanya tahu itu.

Ia akan berusaha mengerjakan semua yang ditugaskan kepadanya dengan cepat dan benar. Tidak jarang pula, pekerjaan untuk hari berikutnya sudah ia selesaikan pada hari-hari sebelumnya. Ia senang bekerja keras. Baginya bekerja keras membuat semuanya berjalan lancar.

Riza adalah orang yang serius, dan akan selalu begitu.

Ia tahu kapan harus menerapkan keseriusannya dengan tepat dan tahu kapan harus melepaskan segala keseriusan itu dan menggantinya dengan sikap ramah dan hangat. Semuanya harus tepat, seperti kemampuannya menembak yang 99,9% tepat sasaran. Dan sejauh ini, tidak ada yang protes ataupun mengeluh. Karena orang-orang disekitar Riza sadar, mereka bisa lebih cepat menyelesaikan pekerjaan jika ada Riza mengawasi dan membimbing mereka dalam menyelesaikan paperwork.

Riza menunduk dan berbalik, berjalan menuju taman terdekat.

Aku sedang tidak ingin cepat pulang. Mungkin aku akan menghabiskan malam sambil makan sandwich di taman.

Riza berhenti di suatu toko roti, menunjuk sandwich yang diinginkannya, dan membayar beberapa cenz pada petugas kasir. Kemudian ia mengucapkan terima kasih dengan iringan senyum hangat. Riza senang senyumannya dibalas dengan senyuman hangat pula.

Riza keluar dari toko roti dan berjalan lagi menuju Eastern Park, taman yang ia ingin datangi untuk menghabiskan malam. Ia tahu, tidak baik wanita sendirian di tengah kota, malam-malam pula. Ia tidak peduli, dirinya ingin berada diluar sebentar untuk malam ini.

subete wo te ni irete
subete wo ushinatte
kioku yubi no aida surinukete mo
kokoro nara koko ni tatte
soshite once again arukidasu yo

(I gain everythingand I lose everything.
Everything is slipping through my fingers,
but my heart is still standing here,
and once again, I will start walking)

Riza meneruskan perjalanannya menuju Eastern Park.

Ia melewati beberapa restoran yang masih buka, beberapa bar yang mulai membuka tokonya, dan beberapa toko lain yang sibuk melayani pe

mbeli. Suasana malam itu sangat damai, meskipun angin terasa lebih dingin. Yah, ini memang sudah bulan september akhir, sudah sewajarnya angin bertiup sedingin ini. Pohon-pohon masih terlihat seperti batang tak berdaun. Sepertinya efek dari musim gugur belum hilang.

Riza kembali teringat masa-masa karir snipernya setelah perang Ishval berlangsung.

Dia dulu hanya seorang sniper muda yang ’berhasil’ membunuh lebih dari 500 orang Ishval tak bersalah. Mulai dari orang dewasa sampai anak-anak. Ia merasa tangannya sangat kotor, dan di penghujung perang, ia merasa tidak pantas melanjutkan kehidupannya sebagai sniper. Riza juga tidak melupakan bagaimana mata hazel-nya yang cantik berubah menjadi ’mata pembunuh’. Perang memang sudah berakhir, namun sisa-sisa perang Isval masih hidup didalam dirinya.

Beruntung, setelah berperang melawan homunculus dan menyelamatkan jiwa 50 juta penduduk Amestris, Riza bisa melepaskan sedikit beban di hatinya. Riza ingin menebus dosanya yang lalu dengan menolong lebih banyak warga Amestris, dan juga warga Ishval yang sekarang sedang dalam pembangunan kembali.

Riza juga ingat, setelah perang, ia ditawari oleh Mustang untuk menjadi asistennya. Untuk menjaga punggungnya. Dan bersedia menembak punggung itu jika Mustang berani berbelok dari jalannya. Riza sempat ragu sesaat, berpikir apa keputusan yang terbaik. Supaya ia tidak salah jalan dan terjerumus menuju ’Ishval kedua’. Riza akhirnya mempercayai Mustang, lagipula toh Riza juga mempercayakan rahasia dipunggungnya kepada Mustang.

Equivalent trade, eh? Punggung dengan punggung.

Riza tersenyum kecil.

Tanpa sadar, Riza telah sampai di hadapan sebuah coffee machine yang terdapat beberapa meter dari pintu depan taman. Riza merogoh saku celana seragam militernya dan mengeluarkan beberapa keping receh, memasukkannya ke dalam slot, dan black coffee hangat di dalam cangkir kertas siap diambil.

Riza mengambil cangkir kertas itu dengan tangan kanan. Genggamannya bergoyang sedikit karena panasnya cangkir. Akibatnya, sebagian black coffee yang masih panas menyiram pergelangan tangan Riza.

”Ah!” Riza terkejut dan melepas cangkir dari tangannya.

Cangkir kertas itu jatuh. Isinya tumpah membasahi sol sepatu boot Riza.

“Ah, sekarang aku harus membeli lagi.” Riza menghela nafas dan mencari recehan.

”Butuh bantuan, Letnan? Ah tidak, maksudku, Kolonel?”

subete wo te ni irete
subete wo ushinatte
shiroi PEEJI dake ga nokosarete mo
kono mune kibou no hi wa always bright

(I gain everything
and I lose everything.
When I'm left with a blank page,
the fire of hope in my heart is always bright)

Riza terkejut dan berputar mencari sumber suara itu. Ia menemukan Roy Mustang berdiri di hadapannya dengan kedua tangan di dalam saku mantel hitam yang sering dipakai ke HQ.

”Sir, saya rasa sekarang sudah terlalu malam untuk berada diluar.” Riza langsung berdiri tegak dan memberikan salut.

”Harusnya kau berkata itu untuk dirimu sendiri, Kolonel.” Roy tertawa kecil.

”Tolong khawatirkan diri anda, Sir.” Riza masih keras kepala.

”Kau selalu berkata begitu. Untung aku tidak bosan.” Roy mengacak rambutnya.

”Izin untuk berbicara dan bertindak bebas Sir.”

”Diizinkan.”

Riza menarik nafas. Ia meletakkan tangannya yang bebas dari kantong sandwich di pinggang lalu mencondongkan badannya kearah Roy, ”Berhenti membuat saya khawatir Jendral Mustang!”

Roy mengedip dua kali. Merasa sangat ’useless’ kalau sudah dimarahi Riza seperti itu.

”Iya, maafkan aku, Kolonel.”

Riza mendengus kecil.

Hening sejenak.

”Jadi, Kolonel, hm... Hawkeye, boleh aku membelikanmu kopi dan menemanimu minum kopi itu sampai habis?” Tanya Roy.

Atasan sekaligus orang kepercayaanku, Roy Mustang.

Entah mengapa ia selalu datang pada saat yang tepat. Saat aku pikir aku akan menderita karena kesepian, ia akan datang dan menghampiriku. Saat aku sedang bingung, banyak pikiran, tidak tahu harus berbuat apa, ia akan datang dan mengatakan semuanya baik-baik saja.

Dan dia memang seperti api yang menyalakan kembali perapian semangatku yang nyaris

padam ditiup angin.

”Tentu saja Jendral, er... Mustang.” Riza menjawab pelan.

why? sou toitsumete taisetsu na hito komaraseta hi kowashita yume
kabe no mukou mita koto mo nai keshiki ga mieta omoi agatte

(Why? Raising a tough question, the day an important dream had been broken.
I saw a scene never seen over the wall
I was never conceited)

Roy membeli dua cangkir kopi dari coffee machine. Ia memilih dua black coffee, mengambil satu sachet gula dan berjalan menuju bangku taman yang sudah diduduki Riza.

“Ini, Hawkeye.” Roy menyerahkan cangkir ditangan kanannya.

”Terimakasih, Sir.” Balas Riza. Roy duduk disebelah Riza dan berusaha menyeruput kopinya.

”Kalau sedang berdua seperti ini, tolong jauhkan kata Sir itu. Membuatku merasa tua.”

”Anda sudah berumur 30, Sir.”

”Dan kau masih dengan kepala 2.”

”Lebih tepatnya, 20-an akhir, Sir.”

”Ayolaaaah, turuti keinginanku. Ini bukan permintaan besar.” Roy mulai dengan nada memohon.

Riza mendengus kecil, ”Baiklah, untuk kali ini kuturuti, Mustang.”

”Aku tahu suatu saat suara memohonku itu akan berguna.” Roy tersenyum bangga.

”Diam, Mustang.”

hito wa nando datte shiawase ni nareru to
oshiete kureta hito ima sayonara
atarashii machi wo omou
kitto believe myself mata deau yo

(Even people again
can be happy
people told me goodbye now
the new town, I think
surely, believe myself to meet again)

Riza sempat merasa depresi. Merasa dunianya gelap setelah terjadinya perang Ishval. Ia merasa tangannya kotor, dipenuhi darah yang tidak bisa hilang. Suara tangisan anak-anak dan perempuan yang mengerang meminta tolong mendengung di telinganya. Neraka itu tidak bisa

hilang dari ingatannya. Ia masih ingat bau darah bercampur debu yang menguap terbakar panas matahari gurun Ishval. Riza hampir gila karenanya.

Seperti mendapat kesempatan baru, Riza menerima menjadi subordinat Mustang dan berjanji untuk setia dan mengikutinya sampai ia bisa meraih cita-citanya menjadi fuhrer Amestris.

Riza sangat bersyukur. Kepada Tuhan, kalau Kau memang ada, terima kasih. Terima kasih, aku boleh mendapat senyumku kembali. Terima kasih masih ada kesempatan kedua.

Riza akhirnya mendapat kesempatan untuk menebus dosanya. Meskipun Riza tahu dosanya sudah terlalu berat, tetapi Riza akan berusaha menjadi subordinat yang terbaik bagi Mustang.

Ya, seorang subordinat.

Tidak boleh lebih dari itu.

Riza mengulum senyum pahit. Roy yang sekarang duduk disampingnya melihat itu.

subete wo te ni irete
subete wo ushinatte
shiroi PEEJI dake ga nokosarete mo
kono mune kibou no hi wa kienai

(I gain everything
and I lose everything.
When I'm left with a blank page
the fire of hope in my heart will not die out)

“Kau sakit, Hawkeye?” Tanya Roy.

Riza termenung sejenak lalu menengok ke arah Roy, “Aku tidak apa-apa, Mustang.”

”Wajahmu tidak mengatakan begitu.”

Riza terdiam. Ia menunduk dan memalingkan wajahnya dari hadapan Roy. Roy menghela nafas, lalu menengadah. Matanya memperhatikan bulan purnama yang bersinar terang malam itu. Roy suka dengan cahaya bulan, apalagi jika memancarkan warna kuning. Warna kuning, sepert rambut letnannya yang satu itu, ah, kolonel maksudnya.

”Kau tahu Hawkeye, rasanya lucu memanggilmu Kolonel.” Roy masih belum berpaling dari pemandangan bulan. Ia mengakhiri denga tertawa kecil.

Riza memandangnya bingung, ”Lucu? Bagian mana yang menurutmu lucu?”

”Dulu aku yang sering dipanggil Kolonel. Dan aku lebih sering memanggilmu Letnan. Terdengar lebih enak ditelingaku. Kolonel terdengar agak, hm, aneh.”

Riza tertawa kecil, ”Anda pikir tidak aneh memanggil anda dengan Jendral. Rasanya jarak diantara kita semakin jauh.”

Tiba-tiba, Riza merasakan tangan Roy dilebarkan dan tangan itu merangkul Riza dari belakang.

”Tidak, aku tidak ingin kau jauh.”

Riza terkejut.

”Err, Sir, saya rasa tindakan ini agak tidak so...”

”Aku tidak peduli, Letnan.”

Riza terdiam. Ada nada yang tidak biasa dalam kalimat terakhir yang diucapkan Roy.

”Sir?”

”Sudah kukatakan untuk jangan memanggilku begitu.”

Tangan Roy masih merangkul Riza dengan erat, seakan-akan Roy tidak mau melepaskan Riza. Tangan itu kekar dan hangat. Riza bisa merasakan sedikit otot lengan Roy menempel pada jaket militernya yang kaku. Riza memang lupa memakai mantelnya hari ini, jadi ya, tidak buruk juga dirangkul Roy seperti ini.

Hey! Apa yang kupikirkan??!!

Riza menggeleng pelan.

”Ada apa Riza?”

”Ha?”

Riza baru ingin protes karena tiba-tiba dipanggil dengan nama depannya. Riza menengok ke arah Roy, dan baru sadar kalau sekarang wajahnya hanya berjarak beberapa senti dari wajah Roy. Wajah Riza spontan mengeluarkan semburat merah,

”Ada apa Riza?” Roy mengulangi pertanyaannya. Riza masih terpaku menatap kedua mata onyx Roy yang terlihat sangat indah malam itu.

”A...Aku...S, sir...” Riza tidak tahu harus berkata apa.

Aku mengakui aku punya perasaan yang lebih dari seorang subordinat. Tetapi aku takut, aku takut terbakar oleh cinta yang kau tawarkan.

Tolong, jangan buat aku terbakar oleh cintamu. Aku takut tidak bisa mengendalikan kobarannya.

ima tadashi ikayori tadashi katta to omoidaseru you ni
taiyou no shita te wo futte aruku

(Remembering how now, whether it is or was not right,
walking under the sun, waving)

Roy mempertahankan tangan yang merangkul Riza dan mengankat tangannya yang bebas ke depan Riza dan memeluk Riza dengan erat. Pelukannya hangat, penuh kasih sayang dan rasa khawatir. Roy ingin melindungi Riza, ingin merasakan dan mengingat bagaimana ukuran tubuh Riza sangat pas dipelukannya. Ia ingin berbagi kehangatan bersama Riza. Hanya Riza seorang.

Tangan kanan Roy memeluk pinggang Riza, dan tangan kirinya mengangkat wajah Riza ke arah wajahnya.

”Aku mencintaimu, Letnan.” Ucap Roy pelan di telinga Riza.

Riza masih diam, tidak bisa mengatakan apapun. Jantungnya berdetak keras, seperti akan keluar dari tempatnya. Wajahnya semakin panas, mungkin sekarang sudah seperti kepiting rebus.

”A... Aku... Aku...” Riza masih terbata-bata. Black coffee yang digenggamnya terjatuh lagi dan membasahi bagian atas bootnya. Riza tidak peduli, boot bisa diurus nanti. Tetapi pria yang sedang memeluknya sekarang, tidak bisa diurus nanti.

Roy menyentuh dagu Riza, mendekatkan bibir Riza dengan bibirnya, dan mencium bibir lembut Riza.

subete wo te ni irete
subete wo ushinatte
kioku yubi no aida surinukete mo
kokoro nara koko ni tatte
soshite once again arukidasu yo

(I gain everything
and I lose everything.
Everything is slipping through my fingers
but my heart is still standing here,
and once again, I will start walking)

Ciuman Roy terasa sangat lembut, tidak memaksa, tidak meminta. Ia hanya ingin menunjukkan cintanya pada Riza. Tangan kanannya memeluk Riza lebih erat kepadanya. Ia ingin Riza tahu bahwa hanya Riza seorang yang dicintainya selama ini. Ia tidak mau Riza berpaling pada orang lain.

Dilain pihak, Riza merasa seluruh tubuhnya membeku. Tidak bisa bergerak. Riza bisa mendorong Roy sejauh mungkin jika ia mau, tapi tubuhnya menolak. Riza ingin merasakan Roy lebih lagi. Ia ingin Roy memperhatikannya. Tidak sebagai subordinatnya, tapi sebagai wanita.

Ya, hatiku tahu yang diinginkannya. Hatiku menginginkannya. Hatiku selalu disini untuk

menunggunya. Menunggu Mustang untuk menyadari kehadiranku. Karena aku tahu, bersama Mustang, aku bisa kembali bangkit dan berjalan lagi. Ia adalah segalanya. Aku tidak mau berpisah dengannya.

Perlahan tapi pasti, Roy meminta Riza membalas ciumannya. Lidah Roy berusaha mencari Riza. Riza merespon positif dan membuka mulutnya perlahan, membiarkan Roy mendapat akses masuk yang dibutuhkannya. Lidah mereka berpilin, berputar, menarikan irama cinta yang selama ini tertahan di dalam hati. Mereka tidak ingin melukai satu sama lain. Baik Roy maupun Riza bisa merasakan kehangatan dan cinta yang bercampur menjadi satu dalam tarian lidah mereka.

Beberapa saat kemudian, Roy dan Riza menjauh, berusaha mencari oksigen.

”A... Saya rasa, saya harus pulang, Sir.” Riza menggenggam kantong sandwich yang terlupakan. Ia berdiri di hadapan Roy.

Roy menangkap pengelangan tangan Riza yang mengenggam kantong sandwich, ”Tolong, jangan pergi.”

Riza terdiam ditempatnya.

”Sir? Aku...mohon.” Riza meminta dengan suara pelan yang hanya bisa didengar Roy.

”Maafkan aku Kolonel Hawkeye, kau belum boleh pergi malam ini.” Roy menggunakan bahasa formalnya. Riza merasa dirinya ingin pergi sejauh mungkin, tidak ingin melanjutkan keinginan dirinya yang ingin terus bersama Roy. Wajah Roy terlihat lelah dan sedih.

Roy mengarahkan wajahnya ke Riza, ”Tolong temani aku malam ini. Aku janji tidak akan menyakitimu.”

Riza menyerah. Lututnya tidak bisa menahan berat tubuhnya. Ia terjatuh berlutut dihadapan

Roy. Tanpa Roy sadari, Riza menitikkan air mata satu demi satu. Air mata meluncur melewati pipi Riza yang memerah. Riza terisak sedikit, ia merasa dirinya sudah lelah menahan diri untuk tidak mencintai atasannya.

”Mengapa?” Isak Riza, ”Mengapa harus saya, Sir?”

Roy berlutut, menyamakan tinggi mereka, dan memeluk Riza, ”Karena kau adalah Riza Hawkeye, wanita dan subordinat yang kucintai sepenuh hati. Riza adalah orang yang aku percaya. Riza yang selama ini aku repotkan dengan kelakuanku yang menyebalkan. Riza yang tidak pernah absen untuk membantuku. Riza adalah segalanya bagiku. Tidak kurang tidak lebih. Aku hanya ingin Riza.”

Riza membenamkan dirinya di dalam pelukan Roy, menangis lebih keras, ”Anda... hiks... Jahat....hiks... Sir.”

”Jangan memanggilku begitu, Hawkeye.” Roy berkata lembut.

”Saya tidak pantas untuk anda, Sir.” Riza masih terisak. Ia tidak peduli matanya sudah sembab akibat menangis.

”Justru aku yang tidak pantas untukmu Hawkeye.”

Riza melihat bingung ke arah Roy.

”Maksudnya?” Tanya Riza.

”Aku merasa sangat bersalah. Kau mempercayakanku dengan fire alchemy di punggungmu, tetapi malah aku gunakan untuk pembunuhan besar-besaran. Aku membuatmu sedih dan menangis beberapa kali. Aku membebankan banyak pekerjaan. Belum lagi semua tanggung jawab yang aku berikan. Aku merasa diriku tidak pernah pantas untuk mendapatkan apapun darimu.” Roy menjelaskan panjang lebar.

Riza terisak kecil. Air matanya sudah berhenti mengalir.

Roy mengangkat sebelah tangannya dan menghapus airmata dari pipi Riza.

”Ternyata kita saling tidak pantas ya?” Riza berkata sambil tersenyum pahit.

Roy tertawa kecil lalu mencium dahi Riza, ”Bukankah itu menarik?”

Riza memberikan senyum termanisnya pada Roy.

subete wo te ni irete
subete wo ushinatte
shiroi PEEJI dake ga nokosarete mo
kono mune kibou no hi wa always bright

(I gain everything
and I lose everything.
When I'm left with a blank page
the fire of hope in my heart is always bright)

Sinar matahari mengintip dari balik tirai berwarna marun di jendela kamar Roy. Pagi ini terlihat cerah.

Riza membuka matanya perlahan. Ia berada di atas tempat tidur Roy. Riza memperhatikan penampilannya. Ia mengenakan piama putih yang kebesaran. Pasti milik Roy, pikir Riza sambil

tersenyum.

Di sebelahnya, Roy tertidur lelap sambil memeluk pinggang Riza.

Setelah malam yang panjang kemarin, Riza setuju untuk menemani Roy. Dan sesuai janjinya, Roy sama sekali tidak menyakitinya.

Riza mendekatkan dirinya ke telinga Roy dan berbisik, ”Aku mencintaimu juga, Kolonel.”

Roy bergerak sedikit sambil menggumamkan nama Riza dalam tidurnya. Riza menggeleng kecil. Ia mencari posisi yang nyaman untuk kembali tidur di sebelah Roy. Akhirnya, ia bergelung di dalam pelukan Roy yang hangat.

Terima kasih, Roy Mustang.

-=-=-=-=-=-==-=-=-=-=-=--=-==-=-=-=-=-=-=-=-=-=-=-==-=-=-=-=-=--=-=-=-=-=

Soooo, inilah fanfic saya... buat yang ga tau siapa Roy Mustang dan Riza Hawkeye, bisa langsung melihat ke sayap kanan ada gambar 2 karakter kesukaan gw, there they are. :))


Oke, Lovindy over and out.


Salam gaul dari bocah gaul,